Penyakit Alasan

Posted: July 3, 2012 in Other

MENGATASI PENYAKIT DALIH /Alasan (by Paulus Winarto)

Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya
kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George Washington Carver.

Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih untuk membuat 1001 dalih
mengenai kegagalan mereka. Alhasil, kesempatan belajar pun terlewatkan
begitu saja.

Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan
mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit dalih
(excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka.

Penyakit dalih tersebut biasanya muncul 4 bentuk, yaitu:
– dalih kesehatan
– dalih inteligensi
– dalih usia
– dalih nasib

Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan,
“Kondisi fisik saya tidak sempurna”,
“Saya tidak enak badan”,
“Jantung saya lemah”,
dan sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacatnya itu
sebagai hambatan. Saya punya sahabat dekat yang menderita polio namun
dikenal sebagai dokter spesialis ginjal sukses dan murah hati.

Sejumlah besar tokoh-tokoh dunia bahkan punya cacat fisik. Presiden
Amerika ke-32 Franklin Delano Roosevelt menderita polio, Shakespeare
lumpuh, Beethoven tuli, Napoleon Bonaparte memiliki postur tubuh yang sangat
pendek.

Dalih inteligensi ditandai dengan ucapan,
“Saya kan tidak pintar”,
“Saya kan bukan rangking teratas”,
“Dia lebih pandai”,
dan sejenisnya. Inilah dalih yang paling umum ditemukan. Tanpa
bermaksud mengecilkan arti sekolah, saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa
tidak perlu jadi profesor agar Anda bisa sukses.

Selanjutnya, dalih usia yang ditandai dengan ucapan,
“Saya terlalu tua”,
“Saya masih terlalu muda”,
“Biarkan yang lebih tua yang duluan”,
dan sejenisnya. Padahal tidak ada batasan usia dalam meraih sukses.
Kolonel Sanders memulai usahanya di usia 65 tahun.

Berikutnya adalah dalih nasib, misalnya dengan mengatakan, “Aduh, nasib
saya memang selalu jelek”,
“Itu sudah nasibku”,
“Itu memang takdir”
Memang amat mudah untuk selalu menyalahkan nasib. Padahal nasib kita
ditentukan oleh kita sendiri. Tuhan telah memberikan hidup dengan
sejumlah pilihan.

Lihatlah betapa banyaknya orang yang memilih berdiam diri
daripada melakukan apa yang bisa mereka perbuat.

Padahal apapun yang layak diraih layak diupayakan dengan seluruh
kemampuan yang kita miliki. Sayangnya, potensi diri ini kerap hanya terkubur
karena kebiasan kita membuat dalih jika apa yang kita kerjakan tidak
berjalan sesuai harapan kita atau hasilnya tidak segera kelihatan.

Gaya hidup modern yang serba instant secara tidak langsung membuat kita
sering mengharapkan hasil yang instant pula. Kita kepengen sekali
makan durian tanpa mau menanam, menyiram, memupuki dan merawat pohonnya.

Saya sendiri sempat terkejut membaca cerita tentang ilmuwan besar
seperti Albert Einstein yang pernah diusir dari sekolah karena dianggap
lamban. Ia bahkan mendapat nilai buruk dalam pelajaran
bahasa Yunani karena ingatannya yang lemah. “Tak peduli apa pun yang
kamu lakukan, kamu takkan dapat melakukan apa-apa,” kata gurunya.

Saya juga teringat kepada Thomas Alva Edison yang hanya bersekolah
beberapa bulan namun tercatat sebagai pencipta terbesar sepanjang jaman
dengan lebih dari 1.000 hak paten. “Saya mempunyai banyak ide tapi hanya
sedikit waktu,” ujarnya. Edison gagal di sekolah. Gurunya merasa Edison
tidak punya minat belajar, pemimpi dan mudah sekali terpecah
konsentrasinya. Yang sungguh membuat saya terharu adalah sikap Ibu Edison
terhadap putranya. Ia terus mengajari Edison di rumah dan setiap kali Edison
gagal, ibunya memberi harapan dan mendorongnya untuk terus berusaha.

Kalau orang gagal senantiasa berkata “itu tidak mungkin berhasil” maka
orang sukses lebih suka berkata “mengapa tidak mencobanya dulu ?”.
Daripada membuat alasan, orang sukses memilih untuk mencari cara mewujudkan
impian mereka. Daripada berdiam diri dan menunggu datangnya
kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan
menemukan kesempatan itu. Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan
dalam kesempitan. E.M. Gray menegaskan, orang-orang sukses mempunyai
kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal.

Jika saat ini Anda masih suka membuat dalih, buatlah komitmen untuk
mengubah kebiasaan itu. Jangan biarkan potensi diri Anda dibelenggu oleh
dalih-dalih Anda. Ingat selalu nasihat Theodore
Roosevelt, “Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di
mana pun Anda berada.”

Sebagai akhir, ijinkanlah saya membagikan kepada Anda sebuah syair dari
Afrika berjudul Perlombaan Saat Matahari Terbit. Setiap pagi di
Afrika, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat
daripada singa tercepat. Jika tidak, ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor
singa bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa
terlamban. Jika tidak, ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda
adalah sang rusa atau sang singa. Saat matahari terbit, Anda sebaiknya
mulai berlari.

Salam SUKSES SELALU dan TETAP SEMANGAT

Sukses besar bisa dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Mulailah
dari mengubah belanja bulanan Anda menjadi sumber penghasilan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s