Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Posted: August 5, 2011 in Other

Kamu bilang, “ini cinta”. Ah, sepertinya kamu terlalu cepat menyimpulkan, saudariku. Hanya karena kamu kagum pada kepribadiannya: pintar, shalih, bijaksana, memikatmu dengan tulisan-tulisannya, lalu dengan mudah kamu mengatakan bahwa kamu sedang dimabuk asmara. Ya, sepertinya kamu memang benar-benar mabuk. Dan itu tidak baik sebenarnya untuk tubuhnya, terlebih hatimu.

Tidakkah kamu sadar bahwa pengetahuanmu tentangnya hanya secuil? Dia orang asing yang bahkan belum pernah kamu temui. Bagaimana bisa kamu menghadirkan cinta pada si maya? *meski kamu selalu meyakinkanku, “sosoknya ada, meski aku belum pernah menemuinya”* Hmm.. Atau mungkin kamu terjebak pepatah Jawa: witing tresno jalaran soko kulino? Yasudahlah. Aku pun tak berhak menyalahkan fitrahmu. Hanya, jangan kau pupuk cintamu itu. Karena, belum saatnya taman hatimu bersemi oleh cinta semu

Tak lama setelah itu kamu berkata, “cintaku pudar”. Ah, aku sudah menduganya. Cinta yang kamu bangun di luar ikatan pernikahan memang tak akan memberi jaminan kesejatian. Sepertinya aku pun mulai sepakat dengan pepatah jawa itu: witing tresno jalaran soko kulino. Ada cinta karena terbiasa. Pudarnya cintamu pasti karena intensitas yang tak lagi terjalin.

Jika kamu ingin memetik buah hikmah, ambillah dari pohon kehidupanmu. Sesungguhnya, kejadian ini bisa memberikan banyak pelajaran. Jangan lagi kamu terjebak oleh cinta semu. Kurangi intensitasmu dengan lawan jenismu. Meski mungkin hatimu sudah kuat menahan serangan virus merah jambu, kamu tetap tidak dapat menjamin jika dia terkotori oleh penyakit hati.

“terima kasih” katamu, menutup perbincangan kita. Seharusnya kamu tak perlu berterima kasih. Sudah menjadi hakmu untuk mendapatkan nasihat dari saudarimu. Dan seandainya kamu tahu bahwa bukan hanya kamu yang mengalaminya. Saudariku yang lain pun bercerita hal yang serupa. Jatuh cinta dengan teman dunia maya. Bahkan pernah ku dengar kisah nyata seorang pria beristri yang menyatakan cintanya pada seorang gadis yang dikenalnya melalui dunia maya. Astaghfirullah. Kok bisa yaa? Aku sungguh tak menyangka saat mendengarnya.

Kenyamanan yang dibangun selama interaksi, ditambah intensitas yang berlebih, mungkin dua faktor itu yang menumbuhkan benih cinta. Ah, cukuplah. Cukup kejadian ini menjadi pengingat, untukku dan yang lain agar kita senantiasa menjaga hati-hati kita untuk tidak mudah jatuh cinta. Sudah saatnya kita membangun cinta, menebarkan kasih sayang kepada sesama. Bukan atas nafsu belaka, tapi lebih karena kecintaan yang mendalam kepada Sang Pemilik Cinta, Allahu Rabbuna..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s